Pergumulan yang berat tak terelakkan saat ini. Minggu malam merupakan puncak dari semua beban yang harus kami lepaskan. Tekanan ekonomi, desakan kebutuhan, hingga waktu yang terus berlari menuju tujuannya.
Tak ada yang bisa kami andalkan. Yang kami miliki tinggallah keyakinan pada TUHAN. Keyakinan yang mengatakan bahwa kehidupan kami akan terus naik dan bukan turun. Keyakinan bahwa semua masalah ini akan berakhir dan teratasi dengan baik.
Malam itu kami hanya sanggup berpelukan sambil menangis bersama.
Selasa, 19 Februari 2008
Senin, 11 Februari 2008
Masihkah kita?

Aku baru saja membaca blog temanku, berisi curhatnya tentang kehidupan rumah tangganya. Sebenarnya tanpa membaca curhat2nya aku juga sudah tau keadaan rumah tangga mereka. Tiap kali ada kesempatan untuk berbagi cerita dia akan mengeluhkan semua beban yang saat ini mereka pikul.
Sebenarnya Rumah Tangga mereka sih tak ada masalah. Kehidupan ekonomi mereka cukup mapan dengan segala kepemilikan yang saat ini bisa dilihat mata, bahkan romantisme yang senantiasa mereka ciptakan dalam setiap pertemuan. Asli, bikin kita iri setengah mati.
Yang menjadi masalah adalah : semenjak mereka menikah belum pernah merasakan tinggal satu atap. Lho?!! Kenapa??!! ini terjadi tak lain dan tak bukan karena perbedaan benua. Sang suami tinggal di San Fransisco dan istrinya tinggal di Indonesia. Mereka sudah berusaha mati-matian biar segera bisa berkumpul, tapi kebijakan dari kedutaan (seringkali tidak bisa dimengerti akal sehat kita). Terpaksa, mereka menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa bersatu.
Tapi aku bangga : Mereka tak pernah lelah berjuang. Walaupun kisi-kisi hati mereka banyak diisi kelelahan dan kesepian. Tapi harapan untuk bisa bersatu (sekalipun menunggu) tidak pernah mati dari hati mereka.
Aku gak tau kapan mereka akan jadi satu atap. Aku gak tau, kapan teman ku itu akan mendapatkan visa imigran ke SF. Aku gak tau. Tapi seiring doanya kepada Bapa, aku pun berharap ada mujizat yang membukakan jalan bagi mereka berkumpul.
Guys, mau baca tulisannya? klik di http://heandus.blogspot.com/. Mari kita renungkan sesuatu. Setelah membaca resume kisah temanku itu, mari kita mengingat-ingat sesuatu tentang hubungan suami istri.
Masihkah kita menyisihkan waktu kita untuk pasangan kita, sekedar mendengar cerita-ceritanya (yang mungkin membosankan dan tidak bisa kita mengerti?)
Masihkah kita bersedia menemaninya mendengarkan musik kesukaannya (walau mungkin kita tidak menyukainya)
Masihkah kita bersedia menyediakan minuman, makanan, pakaian ganti, bagi suami kita? Dengan hati yang mengabdi dan mengasihi?
Masihkah kita bersedia berciuman mesra sebagai salam selamat pagi?
Ataukah :
Kita terlalu sibuk dengan rutinitas dan hobby kita, sehingga seringkali meninggalkan pasangan kita di rumah?
Kita terlalu sibuk dengan selera kita sehingga kita tak bisa hadir bersamanya mana kala dia menikmati hal2 yang tidak bisa kita nikmati?
Kita terlalu egois (istri-istri), sehingga tak mau menempatkan diri sebagai pelayan baginya?
Kita terlalu fokus pada schedulle2 sehingga melupakan salam selamat pagi yang romantis?
Rasanya masih banyak pasangan2 yang bernasib sama dengan temanku itu. Terpisah tapi bukan kemauan mereka. Dan masih banyak pasangan yang sedang menghancurkan benteng pemisah dengan cucuran air mata mereka. Dengan untaian doa yang tak putus-putus. Dengan terus memelihara kesetiaan dan harapan.
Apakah kita tak lagi mampu bersyukur kalau :
Tiap hari kita masih bertemu pasangan kita, bercerita tanpa menghabiskan pulsa telepon?
Bertatap muka tanpa harus menggunakan webcam?
Berpelukan tanpa harus menunggu hari libur?
Mencium aroma badannya... tanpa harus menunggu dan mengeluarkan biaya?
Mencintainya dengan pelayanan tulus kita?
Masihkah kita bergairah menyambut kedatangan pasangan kita...ataukah ... semua debaran itu tinggal kenangan anak muda yang jatuh cinta?
Mari kita renungkan kembali. Dan benahi sikap hati kita. Supaya cinta kasih suami istri senantiasa menyala tak padam seiring waktu yang berjalan dan bertambah.
Dedicated to : Joice and Jeffry
Aku berharap dengan sangat dan penuh ketulusan, kerinduan kalian segera terwujud. Dan Semoga semua pengalaman ini membuat kalian semakin menghargai arti kebersamaan, ketika kalian sudah tinggal satu atap. Kuatkan hati kalian Temans!
Label:
renungan
Minggu, 20 Januari 2008
Mama Dei
Dia bukanlah seorang wanita karier, bukan pula seorang wanita yang menggondol gelar kesarjanaan apalagi master ini dan itu. Mama Dei, demikian sapaan akrabnya, adalah wanita biasa seorang ibu rumah tangga dan oma dari cucu-cucunya. Dia adalah mama mertua saya.
Sekalipun beliau bukanlah wanita karier dengan segala titelnya, tapi ada banyak hal unik dan penting yang bisa aku pelajari dari pribadi beliau. Sebagai seorang ibu, beliau sangat menyayangi putra-putranya. Terasa sekali bahwasanya dalam berbagai kesempatan berusaha adil dengan kedua putranya. Sebagai seorang istri, beliau adalah wanita yang sungguh-sungguh melayani dan mengabdi kepada suami. Sebagai seorang oma, beliau adalah oma yang cerdas untuk cucu-cucunya. Sebagai anggota majelis gereja, beliau tetap menempatkan posisinya sebagai hamba yang siap sedia melaksanakan tugasnya.
Ketika pertama berjumpa (sebelum kami menikah), sama sekali tidak tampak usaha nya untuk membuat jarak. Bahkan sebaliknya, sebagai calon mertua beliau sangat care dan bisa menerima saya apa adanya. Rasanya adeeem getoo. Ketakutan, kejaiman, bahkan jarak musnah begitu aje ketika kami ketemu. Langsung klik dan klop. Kaya temen gitu, ngerumpi, belanja, bahkan curhat2an.
Ketika kami menikah, dan beliau sempat tinggal bersama kami ketika kelahiran anak kami yang pertama, tentunya beliau banyak melihat kekurangan saya sebagai menantu. Tapi sama sekali tidak memihak kepada anaknya jika kami berselilisih paham. Bahkan seringkali beliau memberikan pandangan2 yang mendamaikan. Ketika saya tersudut dengan pola pikir suami yang salah, beliau tampil sebagai pembela dengan cara yang lembut dan penuh damai.
Pokoknya jauh deh dari image2 mertua yang seram. Usut punya usut ternyata beliau itu memelihara saat teduh dengan cara yang simpel. Berdoa, baca firman, menghapal ayat dan praktek.
Pantaslah kalau beliau menjadi wanita kecintaan banyak orang, paling tidak : suaminya, anak-anaknya, menanut2nya, juga cucu-cucunya. Pantaslah kalau roh yang lemah lembut itu makin tampak nyata dan membuat kami-kami ini segan untuk membangkang, karena beliau selalu bernaung dalam otoritas Allah. Sebelum bicara, sebelum menasihati, sebelum bertindak, beliau senantiasa menyertakan TUHAN. Tidak mengandalkan kepintaran yang pas-pasan. Tapi sungguh merupakan contoh nyata kehidupan yang mengandalkan Tuhan.
Saya berharap, bisa seperti beliau. Menjadi Istri dengan roh yang lemah lembut dan perkasa. Dan kehidupannya benar-benar menjadi suratan terbuka bagi setiap orang yang mengenalnya.
Mama Dei tetaplah manusia biasa yang masih jauh dari sempurna. Tapi keseriusannya memenuhi panggilan sebagai wanita bijak, cukup memberikan energi dan pengaruh yang positif bagi saya yang (katanya) aktivis berpengaruh... untuk terus menerus melakukan koreksi atas kekurangan karakter saya.
Tuhan Yesus, terima kasih, Kau berikan aku mama mertua yang bisa menjadi alat pengajaranMU menjadi wanita yang Engkau kehendaki. Berkati beliau, supaya terus hidup dalam naungan kasihMU dan tinggal dalam otoritasmu dalam setiap jam dan waktu. Supaya bukan hanya kami2 yang merasakan dampak dari kehadiran Mu atas nya, tapi setiap orang yang dia sentuh boleh semakin mengenal kehendakMU dalam suratanMU yang terbuka
Mama Dei, terima kasih : sudah mau terima saya sebagai menantu, dan mau mengajari saya banyak hal tanpa mama ajari. Doakan saya, supaya saya benar-benar menjadi Kristen seperti mama. Hidup untuk Kristus dimanapun dan apapun panggilan saya
I Petrus 3 : 1-5
1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,
With Love,
Farrel's Mom
Sekalipun beliau bukanlah wanita karier dengan segala titelnya, tapi ada banyak hal unik dan penting yang bisa aku pelajari dari pribadi beliau. Sebagai seorang ibu, beliau sangat menyayangi putra-putranya. Terasa sekali bahwasanya dalam berbagai kesempatan berusaha adil dengan kedua putranya. Sebagai seorang istri, beliau adalah wanita yang sungguh-sungguh melayani dan mengabdi kepada suami. Sebagai seorang oma, beliau adalah oma yang cerdas untuk cucu-cucunya. Sebagai anggota majelis gereja, beliau tetap menempatkan posisinya sebagai hamba yang siap sedia melaksanakan tugasnya.
Ketika pertama berjumpa (sebelum kami menikah), sama sekali tidak tampak usaha nya untuk membuat jarak. Bahkan sebaliknya, sebagai calon mertua beliau sangat care dan bisa menerima saya apa adanya. Rasanya adeeem getoo. Ketakutan, kejaiman, bahkan jarak musnah begitu aje ketika kami ketemu. Langsung klik dan klop. Kaya temen gitu, ngerumpi, belanja, bahkan curhat2an.
Ketika kami menikah, dan beliau sempat tinggal bersama kami ketika kelahiran anak kami yang pertama, tentunya beliau banyak melihat kekurangan saya sebagai menantu. Tapi sama sekali tidak memihak kepada anaknya jika kami berselilisih paham. Bahkan seringkali beliau memberikan pandangan2 yang mendamaikan. Ketika saya tersudut dengan pola pikir suami yang salah, beliau tampil sebagai pembela dengan cara yang lembut dan penuh damai.
Pokoknya jauh deh dari image2 mertua yang seram. Usut punya usut ternyata beliau itu memelihara saat teduh dengan cara yang simpel. Berdoa, baca firman, menghapal ayat dan praktek.
Pantaslah kalau beliau menjadi wanita kecintaan banyak orang, paling tidak : suaminya, anak-anaknya, menanut2nya, juga cucu-cucunya. Pantaslah kalau roh yang lemah lembut itu makin tampak nyata dan membuat kami-kami ini segan untuk membangkang, karena beliau selalu bernaung dalam otoritas Allah. Sebelum bicara, sebelum menasihati, sebelum bertindak, beliau senantiasa menyertakan TUHAN. Tidak mengandalkan kepintaran yang pas-pasan. Tapi sungguh merupakan contoh nyata kehidupan yang mengandalkan Tuhan.
Saya berharap, bisa seperti beliau. Menjadi Istri dengan roh yang lemah lembut dan perkasa. Dan kehidupannya benar-benar menjadi suratan terbuka bagi setiap orang yang mengenalnya.
Mama Dei tetaplah manusia biasa yang masih jauh dari sempurna. Tapi keseriusannya memenuhi panggilan sebagai wanita bijak, cukup memberikan energi dan pengaruh yang positif bagi saya yang (katanya) aktivis berpengaruh... untuk terus menerus melakukan koreksi atas kekurangan karakter saya.
Tuhan Yesus, terima kasih, Kau berikan aku mama mertua yang bisa menjadi alat pengajaranMU menjadi wanita yang Engkau kehendaki. Berkati beliau, supaya terus hidup dalam naungan kasihMU dan tinggal dalam otoritasmu dalam setiap jam dan waktu. Supaya bukan hanya kami2 yang merasakan dampak dari kehadiran Mu atas nya, tapi setiap orang yang dia sentuh boleh semakin mengenal kehendakMU dalam suratanMU yang terbuka
Mama Dei, terima kasih : sudah mau terima saya sebagai menantu, dan mau mengajari saya banyak hal tanpa mama ajari. Doakan saya, supaya saya benar-benar menjadi Kristen seperti mama. Hidup untuk Kristus dimanapun dan apapun panggilan saya
I Petrus 3 : 1-5
1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,
With Love,
Farrel's Mom
Label:
testimonial
Jumat, 18 Januari 2008
Malam Pertama
Suamiku senang sekali jika mengingat-ingat tentang malam pertama kami. Malam yang menurutnya sangat membanggakan, karena pada malam itu dia berhasil memecahkan segel alias virginitasku. Butuh perjuangan hingga beberapa ronde untuk memecahkan "masalah"nya.
Oh iya, ada kejadian lucu ketika malam pertama yang bisa dia jadikan bahan ledekan untukku. Waktu itu aku kesakitan sekali sampai-sampai memohon kepadanya untuk tidak terburu-buru memperbesar size Mr. P. Belum lagi aku sempat merintih dengan memanggil nama Tuhan ketika rasa sakit itu tak bisa ditundukkan. Wah, kalau ingat itu sebenarnya aku maluuuuuuu banget.
Tak bisa dipungkiri ya, ternyata para pria timur masih mendewakan virginitas. Dan kalo boleh jujur mereka akan memilih untuk menikmati "yang utuh" ketika malam pertama.
Tapi.....aku sering juga terbengong-bengong jika membaca berita survey tentang keprawanan anak-anak sekolah yang sudah banyak terenggut. Atau, tulisan-tulisan yang menceritakan betapa banyaknya anak-anak sekolah yang memilih untuk menjalani kehidupan bebas hingga terjadi kehamilan di luar nikah. Ada lagi kasus video porno yang dibuat di HP oleh pasangan2 yang masih SMU.
Ya Tuhan, apakah mereka tidak merasakan kesakitan yang pertama kali melakukan sehingga tidak menyisakan trauma? Maksudku, sedang kami saja yang melakukan tanpa dibayang-bayangi rasa takut dosa (karena sudah resmi bo) masih harus berjuang melawan trauma rasa sakit setelah di"obrak-abrik"..ini kok anak yang masih belasan tahun sudah banyak yang kebobolan?
Tak adakah keinginan di dalam hati mereka untuk menjadi bangga ketika Malam Pertama mereka nikmati? Tak adakah rasa bersalah atau takut akan masa depan sehingga banyak yang memilih untuk menikmati menu makanan yang belum saatnya mereka santap? Tidakkah kejadian - kejadian itu mengikis keyakinan diri mereka untuk merenda kehidupan di masa yang akan datang?
Harus bagaimana kita-kita sebagai hamba Tuhan menyikapi hal ini? Cukupkah sanksi tanpa pemberkatan nikah? Atau sebenarnya... anak-anak ini butuh pendekatan yang lebih logis? Aku juga tak tahu. tapi aku yakin pilihan hidup mereka menentukan keadaan kejiwaan mereka dalam menghadapi hidupnya. Aku juga yakin bahwasanya mereka juga memiliki penyesalan, hanya saja .. menurut mereka tak guna mengubah gaya hidup, toh sudah terlanjur tidak perawan?
Aku gak tau, tapi seringkali teman2ku yang sudah terlanjur terperosok melakukan hal itu sebelum waktunya mereka mengalami tekanan psikis ketika mereka ingin memulai hidup yang baru dengan pasangan yang baru pula
Oh iya, ada kejadian lucu ketika malam pertama yang bisa dia jadikan bahan ledekan untukku. Waktu itu aku kesakitan sekali sampai-sampai memohon kepadanya untuk tidak terburu-buru memperbesar size Mr. P. Belum lagi aku sempat merintih dengan memanggil nama Tuhan ketika rasa sakit itu tak bisa ditundukkan. Wah, kalau ingat itu sebenarnya aku maluuuuuuu banget.
Tak bisa dipungkiri ya, ternyata para pria timur masih mendewakan virginitas. Dan kalo boleh jujur mereka akan memilih untuk menikmati "yang utuh" ketika malam pertama.
Tapi.....aku sering juga terbengong-bengong jika membaca berita survey tentang keprawanan anak-anak sekolah yang sudah banyak terenggut. Atau, tulisan-tulisan yang menceritakan betapa banyaknya anak-anak sekolah yang memilih untuk menjalani kehidupan bebas hingga terjadi kehamilan di luar nikah. Ada lagi kasus video porno yang dibuat di HP oleh pasangan2 yang masih SMU.
Ya Tuhan, apakah mereka tidak merasakan kesakitan yang pertama kali melakukan sehingga tidak menyisakan trauma? Maksudku, sedang kami saja yang melakukan tanpa dibayang-bayangi rasa takut dosa (karena sudah resmi bo) masih harus berjuang melawan trauma rasa sakit setelah di"obrak-abrik"..ini kok anak yang masih belasan tahun sudah banyak yang kebobolan?
Tak adakah keinginan di dalam hati mereka untuk menjadi bangga ketika Malam Pertama mereka nikmati? Tak adakah rasa bersalah atau takut akan masa depan sehingga banyak yang memilih untuk menikmati menu makanan yang belum saatnya mereka santap? Tidakkah kejadian - kejadian itu mengikis keyakinan diri mereka untuk merenda kehidupan di masa yang akan datang?
Harus bagaimana kita-kita sebagai hamba Tuhan menyikapi hal ini? Cukupkah sanksi tanpa pemberkatan nikah? Atau sebenarnya... anak-anak ini butuh pendekatan yang lebih logis? Aku juga tak tahu. tapi aku yakin pilihan hidup mereka menentukan keadaan kejiwaan mereka dalam menghadapi hidupnya. Aku juga yakin bahwasanya mereka juga memiliki penyesalan, hanya saja .. menurut mereka tak guna mengubah gaya hidup, toh sudah terlanjur tidak perawan?
Aku gak tau, tapi seringkali teman2ku yang sudah terlanjur terperosok melakukan hal itu sebelum waktunya mereka mengalami tekanan psikis ketika mereka ingin memulai hidup yang baru dengan pasangan yang baru pula
Label:
pertanyaan2
Rabu, 05 Desember 2007
Cipika Cipiki
---Lintas budaya dan ras -----
Aku dibesarkan di kultur Jawa totok. Salah satu aturan yang masih terbawa2 sampai sekarang adalah : dilarang ciuman dengan yang bukan muhrim. Dulu ketika ada teman beda suku dan main cipika cipiki denganku.. bapakku marah sekali. Beliau bilang begini : "Keperawanan perempuan itu tidak hanya dilihat dari selaput daranya, tapi dari kemampuannya menjaga keutuhan kesucian seluruh tubuhnya termasuk pipinya"
Waktu itu aku bete banget mendengarnya, kolot banget kan? Bagiku cipika-cipiki adalah bagian yang tak terpisahkan dari pergaulan masa kini. Entah dengan sesama jenis ataupun lawan jenis. Tapi entah karena apa, aku memilih untuk taat dan patuh (ceritanya mau jadi anak yang manis gitu)
Naah...ketika aku tunangan dengan orang yang bukan Jawa (doi dari manado). Aku harus terkejut2 melihat adanya beberapa perbedaan. Dalam suatu acara besar, teman2 dari manado seperti biasa cipika-cipiki. Waktu itu ada seorang teman dekatku dari manado juga (laki-laki tentunya) mau ngesun aku. Karena doktrin dari bapak yang sudah mendarah daging plus ingin menghormati tunanganku reflek aku menghindar.
Ketika kami sama-sama pulang, tunanganku menasihati, lain kali kalo ada teman yang mau beramah tamah dengan cipika cipiki jangan menghindar, karena itu akan sangat menyinggung perasaannya. Beruntung, tadi adalah sahabatku, yang sudah kenal baik sama aku, jadi dia tak marah, tapi maklum bahwa aku tidak / belum terbiasa dengan budaya cipika cipiki.
Aku cuma bengong, dalam hatiku ...duuuh merepotkan yaa... di satu sisi aku di doktrin dengan kultur yang seperti itu, disisi lain etika pergaulan membenarkan adanya cipika-cipiki... Well... gmana kata Alkitab :
Ro 16:16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.
1Co 16:20 Salam kepadamu dari saudara-saudara semuanya. Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus.
Inikah yang disebut dengan cium kudus itu? adakah yang mau berkomentar??
Aku dibesarkan di kultur Jawa totok. Salah satu aturan yang masih terbawa2 sampai sekarang adalah : dilarang ciuman dengan yang bukan muhrim. Dulu ketika ada teman beda suku dan main cipika cipiki denganku.. bapakku marah sekali. Beliau bilang begini : "Keperawanan perempuan itu tidak hanya dilihat dari selaput daranya, tapi dari kemampuannya menjaga keutuhan kesucian seluruh tubuhnya termasuk pipinya"
Waktu itu aku bete banget mendengarnya, kolot banget kan? Bagiku cipika-cipiki adalah bagian yang tak terpisahkan dari pergaulan masa kini. Entah dengan sesama jenis ataupun lawan jenis. Tapi entah karena apa, aku memilih untuk taat dan patuh (ceritanya mau jadi anak yang manis gitu)
Naah...ketika aku tunangan dengan orang yang bukan Jawa (doi dari manado). Aku harus terkejut2 melihat adanya beberapa perbedaan. Dalam suatu acara besar, teman2 dari manado seperti biasa cipika-cipiki. Waktu itu ada seorang teman dekatku dari manado juga (laki-laki tentunya) mau ngesun aku. Karena doktrin dari bapak yang sudah mendarah daging plus ingin menghormati tunanganku reflek aku menghindar.
Ketika kami sama-sama pulang, tunanganku menasihati, lain kali kalo ada teman yang mau beramah tamah dengan cipika cipiki jangan menghindar, karena itu akan sangat menyinggung perasaannya. Beruntung, tadi adalah sahabatku, yang sudah kenal baik sama aku, jadi dia tak marah, tapi maklum bahwa aku tidak / belum terbiasa dengan budaya cipika cipiki.
Aku cuma bengong, dalam hatiku ...duuuh merepotkan yaa... di satu sisi aku di doktrin dengan kultur yang seperti itu, disisi lain etika pergaulan membenarkan adanya cipika-cipiki... Well... gmana kata Alkitab :
Ro 16:16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.
1Co 16:20 Salam kepadamu dari saudara-saudara semuanya. Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus.
Inikah yang disebut dengan cium kudus itu? adakah yang mau berkomentar??
Label:
Hubungan Intim
Minggu, 02 Desember 2007
SEX : Antara Kasih, Gairah, dan Kewajiban
Eyang putri ku pernah berkata : urusan ranjang adalah kewajiban mutlak bagi istri untuk memberikan pelayanan terbaik bagi suami. Kalau suami "minta" harus, wajib, kudu hukumnya untuk dilayani, kalau tidak? maka perempuan dianggap berdosa besar dan durhaka terhadap suami. Dan jangan salahkan suami jika dia selingkuh karena penolakan kita.
Ketika aku masih "bandel" suka nonton BF, aku pernah berpikir bahwa aku adalah wanita dengan libido yang sangat tinggi... gampang terangsang gitchu. Aku bayangkan, tiada hari tanpa SEX. Minimal 3 kali sehari (emang minum obat???) wakakakaaaaa...Dan wejangan eyang putriku tadi kuanggap sebagai keuntungan.
Lain dulu lain sekarang...Dulu ketika SEX hanyalah sekedar teori dan angan2, rasanya mudah untuk dilaksanakan berkali2 dalam sehari. Sekarang??? Heheheeee... ternyata jauuuh dari angan2. Moodku seringkali butuh waktu u/ dimunculkan. Bahkan dalam kurun waktu tertentu aku sempat trauma dengan kejadian di malam pertama. Kelelahan Fisik sebagai wanita yang bekerja ternyata juga mempengaruhi gairah sex. Dan omong punya omong, ternyata 4 dari 5 wanita pekerja akan merasakan hal yang sama dengan aku. Uh.. ternyata prakteknya sulit yaa...
Ketika aku mendoktrin pikiranku dengan wejangan Eyang, bahwa "wajib" hukumnya melayani urusan ranjang...yang aku rasakan bukan kenikmatan, tapi justru ekplorasi, ketidakadilan, dan egoisme laki2. Ketika aku beralasan : takut suamiku selingkuh... aku malah semakin tersiksa... makin merasa disemena-menakan.
Haruskah Sex menjadi alasan bagi pria untuk meninggalkan istrinya? Haruskah wanita selalu nrimo untuk urusan yang memerlukan energi lebih besar daripada lari marathon? Ya Tuhan.....haruskah aku bertanya padaMU tentang ini? aku malu.. tapi.. siapa yang sanggup memberikan pengertian dan pertolongan padaku selain dari padaMU.
Yah...syukurlah, Tuhan juga peduli tuh, untuk urusan beginian :p.
Col 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Alasan dilakukannya hubungan intim suami istri bukan karena merasa "wajib", tapi Kasih. Dengan kasih semua akan lebih enak dilakukan. Ada negosiasi, pengertian antara suami istri, dan pertumbuhan komunikasi. Bener lho, ketika aku mulai menyampaikan hal2 yang aku inginkan atas dasar kasih, ternyata suamiku bisa mengerti dan kami bisa menemukan formula yang tepat untuk kami nikmati bersama2.
memang benar bahwa :
1Co 7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya
tapi ini tidak bisa diartikan bahwa suami atau istri itu harus "ready 2 use". Ini hanya bisa diartikan bahwa tubuh suami / istri itu didedikasikan untuk melayani TUHAN dan suami. Segala sesuatu yang menyangkut suami dan istri harus dilaksanakan berdasar Kasih.
Col 3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Istri2, jadilah bijak, jangan menyerah dengan mood sementara suami perlu pelayananmu. Gairah bisa muncul seiring dengan tekad kita menunjukkan kasih kita kepada suami. Ini juga sebagai penundukan diri kita kepada suami. Penundukan diri haruslah di dasari, bahwa segala sesuatu dilaksanakan atas dasar Takut akan Tuhan. Percaya deh, Gairah yang kita perlukan untuk berhubungan intim akan muncul dengan cara yang ajaib, jika mind set kita benar.
Bicarakan dan sepakati aja, kapan dan seperti apa hubungan intim yang kita inginkan. Percaya deh, kalau kita berjuang melawan bad mood bersama2 dengan TUHAN, maka Tuhan juga pasti mau terlibat untuk menolong kita.
Kiranya Tuhan memberikan pertolongan bagi kita untuk lebih mengasihi dan memahami pasangan kita. Sehingga keluarga2 kita menjadi keluarga yang diberkati oleh Tuhan, jauh dari rasa intimidasi, ikatan kewajiban semu, dan memiliki kemerdekaan yang sejati. Amin
Ketika aku masih "bandel" suka nonton BF, aku pernah berpikir bahwa aku adalah wanita dengan libido yang sangat tinggi... gampang terangsang gitchu. Aku bayangkan, tiada hari tanpa SEX. Minimal 3 kali sehari (emang minum obat???) wakakakaaaaa...Dan wejangan eyang putriku tadi kuanggap sebagai keuntungan.
Lain dulu lain sekarang...Dulu ketika SEX hanyalah sekedar teori dan angan2, rasanya mudah untuk dilaksanakan berkali2 dalam sehari. Sekarang??? Heheheeee... ternyata jauuuh dari angan2. Moodku seringkali butuh waktu u/ dimunculkan. Bahkan dalam kurun waktu tertentu aku sempat trauma dengan kejadian di malam pertama. Kelelahan Fisik sebagai wanita yang bekerja ternyata juga mempengaruhi gairah sex. Dan omong punya omong, ternyata 4 dari 5 wanita pekerja akan merasakan hal yang sama dengan aku. Uh.. ternyata prakteknya sulit yaa...
Ketika aku mendoktrin pikiranku dengan wejangan Eyang, bahwa "wajib" hukumnya melayani urusan ranjang...yang aku rasakan bukan kenikmatan, tapi justru ekplorasi, ketidakadilan, dan egoisme laki2. Ketika aku beralasan : takut suamiku selingkuh... aku malah semakin tersiksa... makin merasa disemena-menakan.
Haruskah Sex menjadi alasan bagi pria untuk meninggalkan istrinya? Haruskah wanita selalu nrimo untuk urusan yang memerlukan energi lebih besar daripada lari marathon? Ya Tuhan.....haruskah aku bertanya padaMU tentang ini? aku malu.. tapi.. siapa yang sanggup memberikan pengertian dan pertolongan padaku selain dari padaMU.
Yah...syukurlah, Tuhan juga peduli tuh, untuk urusan beginian :p.
Col 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Alasan dilakukannya hubungan intim suami istri bukan karena merasa "wajib", tapi Kasih. Dengan kasih semua akan lebih enak dilakukan. Ada negosiasi, pengertian antara suami istri, dan pertumbuhan komunikasi. Bener lho, ketika aku mulai menyampaikan hal2 yang aku inginkan atas dasar kasih, ternyata suamiku bisa mengerti dan kami bisa menemukan formula yang tepat untuk kami nikmati bersama2.
memang benar bahwa :
1Co 7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya
tapi ini tidak bisa diartikan bahwa suami atau istri itu harus "ready 2 use". Ini hanya bisa diartikan bahwa tubuh suami / istri itu didedikasikan untuk melayani TUHAN dan suami. Segala sesuatu yang menyangkut suami dan istri harus dilaksanakan berdasar Kasih.
Col 3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Istri2, jadilah bijak, jangan menyerah dengan mood sementara suami perlu pelayananmu. Gairah bisa muncul seiring dengan tekad kita menunjukkan kasih kita kepada suami. Ini juga sebagai penundukan diri kita kepada suami. Penundukan diri haruslah di dasari, bahwa segala sesuatu dilaksanakan atas dasar Takut akan Tuhan. Percaya deh, Gairah yang kita perlukan untuk berhubungan intim akan muncul dengan cara yang ajaib, jika mind set kita benar.
Bicarakan dan sepakati aja, kapan dan seperti apa hubungan intim yang kita inginkan. Percaya deh, kalau kita berjuang melawan bad mood bersama2 dengan TUHAN, maka Tuhan juga pasti mau terlibat untuk menolong kita.
Kiranya Tuhan memberikan pertolongan bagi kita untuk lebih mengasihi dan memahami pasangan kita. Sehingga keluarga2 kita menjadi keluarga yang diberkati oleh Tuhan, jauh dari rasa intimidasi, ikatan kewajiban semu, dan memiliki kemerdekaan yang sejati. Amin
Label:
Hubungan Intim
Selasa, 13 November 2007
Penting, tapi bukan segalanya !!
Ketika aku bergumul tentang pasangan hidup, ada salah satu kriteria yang masuk dalam pokok doaku. Yaitu : MAPAN. Ketika aku menyampaikan keinginanku untuk memulai kehidupan rumah tangga dengan kemapanan yang terbayang dalam benakku adalah tidak pusing mikiri biaya kontrakan, gak pusing ngatur duit, kemana2 ada kendaraan (gak kehujanan dan kepanasan), bisa bayar pembantu bejibun,bisa menikmati liburan yang aku impikan dst. Intinya bisa menikmati hidup dengan lebih bergairah.
Sayup aku dengar jawaban dalam doaku,"Kalau AKU menghendaki kalian mulai dari nol apakah kamu akan menolak?"
Singkat cerita, ketika aku dipertemukan dengan suamiku, dia memang bukan orang yang memiliki kriteria MAPAN. Kami benar2 memulai dari bawah. Merasakan pusing mengatur keuangan, agak sulit kalo mesti bepergian jauh (karena kami baru punya motor). Tapi, apakah lantas perkawinan kami bukan perkawinan yang berbahagia?
Ternyata tidak, ada banyak hal yang membuat aku lebih kaya dari kaum MAPAN. Aku memiliki suami yang baik, tak banyak menuntut, sayang dan takut pada TUHAN. Aku juga punya mama papa mertua yang begitu pengertian, seperti orangtuaku sendiri. Teristimewa, kami sama-sama belajar untuk memperbaiki diri dari hari ke hari melalui pimpinan Firman Tuhan.
Ketika banyak rumah tangga seangkatanku yang mengalami konflik dengan mertua, kami seolah dijauhkan dari semua konflik dengan mertua. Ada kehangatan, ada kerjasama, ada damai, ada nyanyian, ada ucapan I Love You dari hati...bahkan ketika kami harus menangis karena kesulitan... kami masih bisa tersenyum penuh harapan.
Ya.. kemapanan, uang, dan harta memang penting, tapi bukan segalanya. Dan untuk bahagia ... ternyata banyak sekali cara untuk menikmatinya.
Ibrani 13 : 5 :> Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman,"Aku sekali - kali tidak akan membiarkan engkau, dan AKU sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Philipi 4 : 19 :>Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Sayup aku dengar jawaban dalam doaku,"Kalau AKU menghendaki kalian mulai dari nol apakah kamu akan menolak?"
Singkat cerita, ketika aku dipertemukan dengan suamiku, dia memang bukan orang yang memiliki kriteria MAPAN. Kami benar2 memulai dari bawah. Merasakan pusing mengatur keuangan, agak sulit kalo mesti bepergian jauh (karena kami baru punya motor). Tapi, apakah lantas perkawinan kami bukan perkawinan yang berbahagia?
Ternyata tidak, ada banyak hal yang membuat aku lebih kaya dari kaum MAPAN. Aku memiliki suami yang baik, tak banyak menuntut, sayang dan takut pada TUHAN. Aku juga punya mama papa mertua yang begitu pengertian, seperti orangtuaku sendiri. Teristimewa, kami sama-sama belajar untuk memperbaiki diri dari hari ke hari melalui pimpinan Firman Tuhan.
Ketika banyak rumah tangga seangkatanku yang mengalami konflik dengan mertua, kami seolah dijauhkan dari semua konflik dengan mertua. Ada kehangatan, ada kerjasama, ada damai, ada nyanyian, ada ucapan I Love You dari hati...bahkan ketika kami harus menangis karena kesulitan... kami masih bisa tersenyum penuh harapan.
Ya.. kemapanan, uang, dan harta memang penting, tapi bukan segalanya. Dan untuk bahagia ... ternyata banyak sekali cara untuk menikmatinya.
Ibrani 13 : 5 :> Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman,"Aku sekali - kali tidak akan membiarkan engkau, dan AKU sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Philipi 4 : 19 :>Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Label:
bersyukur
Langganan:
Postingan (Atom)
